Home > Fikih > Hukum Melafadzkan Niat

Hukum Melafadzkan Niat

oleh: Imanudien

I. Mukoddimah

Segala puji bagi Allah yang mencipotkan langit dan bumi dan menciptakan segala yang ada pada keduanya. Shalawat beserta salam terlimpah kepada Nabi Muhammad shalallahu wa sallam yang telah mengajari manusia kepada jalan yang benar.

Sesungguhnya amal ibadah hamba akan bernilai disisi Allah lantaran niat yang benar, dan betapa besar amal seseorang tidak bernilai disisi Nya dikarenakan niat yang salah. Maka setiap amalan hamba akan ditentukan oleh niatnya. Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah shalallahu wa sallam dalam haditsnya yang telah masyhur dikalangan kaum muslimin yaitu hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khotob radiyallahu anhu ia berkata:

سمعت رسول الله قال: إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امرئ ما نوى

“Saya mendengar Rasulullah bersabda, Hanyasannya amal adalah dengan niat, dan hanyasannya setiap seseorang tergantung pada niatnya (Muttafaqun Alaih).”


Para ulama’ mengambil istinbat (kesimpulan) dari hadits ini dengan membuat tiga kaidah yang banyak dipakai dan dibutuhkan dikalangan para mujtahidin. Adapun kaidah yang bisa diambil oleh para ulama’ dari hadits ini adalah: “La tsawaba illa binniyah”, “Al-Umuuru bimaqosidiha”, dan “Al-Ibrotu fil uquudi lil maqosid wal ma’ani, la lil alfaadhi wal mabaani”.

Sungguh sangat penting keberadaan niat dalam ibadah hamba, maka seyogyanya bagi kita untuk lebih memperhatikan masalah ini, baik dari kaifiyahnya (caranya), kesalahan-kesalahan yang ada padanya atau ikhtilaf ulama’ berkenaan dengannya. Maka pada makalah ini sedikit kita membahas perbedaan ulama’ dalam masalah “at-Talafudz Binniyah” (Melafadzkan Niat).

II. Hakikat dan Hukum Niat

Niat menurut bahasa adalah al-Qosdu (menyengaja) terhadap sesuatu dan kemauan hati kepadanya. Sedangkan menurut istilah syar’i adalah kemauan hati atas suatu perbuatan, baik perbuatan fardhu maupun selainnya.

Adapu niat adalah wajib menurut pendapat jumhur. Dan niat merupakan syarat dalam ibadah. Firman Allah Qs: al-Bayyinah

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)

Dan juga sebuah hadits Rasulullah shalallahu wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, yaitu:

إنما الأعمال با النية, وإنما لكل امرئ ما نوى

“Hanyasannya amal adalah dengan niat, dan hanyasannya setiap seseorang tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun Alaih).

III. Mahalu Niat (Tempat Niat)

Para ulama’ telah sepakat bahwa tempat Niat adalah di dalam hati dalam semua ibadah. Seperti shalat, bersuci, zakat, haji, puasa, jihad, dan lain-lain. Dan tidak di syaratkan di dalam ibada-ibadah tersebut untuk melafadzkan dengan lisan. Imam Syafi’iv mengatakan bahwa dalam niat shalat tidak disyaratkan untuk menggerakkan lisan.

Melafadzkan niat dengan jahr (keras) tidaklah di wajibkan dan tidak pula di sunahkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Bahkan jahr dalam niat adalah bid’ah yang menyelisihi syari’ah, maka jika ia melakukan perbuatan tersebut dan berkeyakinan bahwasannya itu dari syari’at maka dia adalah orang yang jahil dan tersesat, bahkan menurut Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dia berhak mendapatkan ta’zir atau sanksi.

Sedangkan yang menjadi permasalahan adalah melafadzkan niat dengan sir (pelan). Apakah termasuk amalan sunnah ataukah tidak? Dalam hal ini ada dua pendapat yang telah diketahui di kalangan para fukoha’, yaitu:

1. Pendapat yang menyatakan bahwa mengucapkan niat dengan lisan adalah sunnah. Seperti mengatakan “Usholli fardhu dhuhri” (saya niat sholat fardhu duhur), di karenakan yang demikian itu sebagai penginggat terhadap hati. Jika kita berniat sholat dhuhur akan tetapi lisan mengatakan sholat asar maka tidak mengapa, karena niat adalah didalam hati. Sedangkan mengucapkan dengan lisan hanya sebagai pembantu untuk menginggatkan hati saja. Pendapat ini yang dipegang oleh Madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah.
2. Pendapat yang menyatakan bahwa melafadzkan niat dalam sholat bukanlah hal yang di syariatkan. Hanafiyah mengatakan, melafadzkan niat dengan lisan adalah bid’ah, dan di sunnahkan untuk mencegah rasa was-was. Sedangkan Malikiyah mengatakan sesungguhnya melafadzkan niat adalah menyelisihi yang utama (lebih utama ditinggalkan). Dan di sunnahkan bagi yang terganggu (rasa was-was).[5]

Dari pendapat para fukoha’ tidak di dapatkan satu pendapat pun yang mewajibkan untuk melafadzkan niat. Meskipun sebagian dari pengikut Imam Syafii mewajibkan mengucapkan niat dengan bardalih perkatan Imam Syafiiv. Beliau Imam Syafii mengatakan “Harus mengucapkan dalam permulaan shalat”. Mereka memahami bahwa yang di maksud oleh Imam Syafi’i adalah niat. Padahal yang di kehendaki oleh beliau adalah Takbiratul Ihrom, hal ini sebagaiman yang di jelaskan oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala dalam Majmu’ Fatawanya. Dan juga penjelasan dari Ibnu Qoyyim rahimahullahu ta’ala, beliau menambahkan dengan mengatakan, bagaimana mungkin Imam Syafi’i menganggap sunnah perkara yang tidak dilaksanakan oleh Rasulullah shalallahu wa sallam dalam satu sholat pun, dan juga tidak pernah dilaksanakan oleh para sahabat beliau.

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya “Jami’ul Ulum Wal Hikam” menyebutkan bahwa niat adalah di dalam hati dan tidak diwajibkan untuk melafadzkanya. Dalam hal melafadzkan niat tidak di dapatkan periwayatan yang khusus mengenai hal ini dari para salaf maupun dari para Aimmatul muslimin kecuali hanya dalam masalah Haji. Mujahid pernah berkata: jika ingin melaksanakan haji hendaklah menyebut apa yang terlihat baginya.

Di antara rukun haji adalah ihram dan ihram tidak akan sah kecuali dengan niat, karena ia adalah ibadah mahdhoh yang tidak sah kecuali dengan niat, sebagaiman ibadah yang lainnya seperti sholat dan puasa. Niat ihram adalah di dalam hati, dalam hal ini kebanyakan para ulama’ mengafdholkan (mengutamakan) untuk mengucapkan niatnya. Dengan berdalih hadts Rasulullah shalallahu wa sallam yang diriwayatkan dari Anas  beliau berkata: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu wa sallam berkata “Labaika umrotan wa hajan”.” (HR Muslim No 1232). Dikarenakan juga jika mungucapkannya akan jauh dari kelupaan. Seperti mengatakan Nawaitu al-haj aw umroh wa ahromtu biha lillah ta’ala”. Atau mengatkan “Allahumma uridul hajja aw umroh”.[6]

Dalam ihrom hendaklah meniatkan dalam hatinya untuk masuk dalam ibadah haji dan berpakaian dengannya. jika menghendaki untuk umroh maka meniatkan umroh dan jika menghendaki bersamaan keduanya (haji dan umroh) hendaklah meniatkan dengan haji dan umroh. Adapun yang wajib adalah meniatkan ini semua dalam hati dan tidak diwajibkan untuk mengucapkannya tidak pula talbiyah. Akan tetapi sebagian dari pengikut Imam Syafi’i mengatakan yang lebih afdhol adalah mengucapkan dengan lisannya dan mengucapkan talbiyah. Karena sebagian ulama’ mengatakan tidak sah ihrom seseorang sehingga ia mengucapkan talbiyah. Maka untuk lebih hati-hati hendaklah ia meniatkan dalam hatinya dan mengucapkan dengan lisannya, karena itu akan menghadirkan niat dalam hati. Seperti mengucapkan:

نويت الحج و أحرمت به لله تعالى لبيك اللهم لبيك…. إلى آخر التلبية

“Aku berniat haji dan ihram untuk Allah yang maha tinggi ya Allah aku penuhi panggilanmu…… sampai akhir.”

Jika hanya melafadzkan dalam lisan tetapi hati tidak meniatkannya maka ihromnya tidak sah, dan jika ia meniatkan dalam hati dan tidak melafadzkan dalam lisannya maka tidak mengapa (ihromnya sah).

Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini berkata di sunahkan dalam talbiyah untuk menyebutkan apa yang ia inginkan dalam ihromnya dari haji atau umroh.[7]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ketika ditanya mengenai apakah niat dalam ibadah haji harus di ucapkan beliau mengatakan bahwa Tempat niat di dalam hati, bukan di lisan. Caranya adalah agar sesorang niat dalam hatinya bahwa dia akan haji atas nama fulan bin fulan. Demikian itulah niat. Namun untuk itu dia disunnahkan melafazkan seperti dengan mengatakan jika untuk orang lain: “Labbaik Allahumma Hajjan an Fullan ” (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk haji atas nama fulan), atau “Labbaik Allahumma ‘Umratan ‘an Fulan “ (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah atas nama Fulan) hingga apa yang ada dalam hati dikuatkan dengan kata-kata. Sebab Rasulullah shalallahu wa sallam melafazkan haji dan juga melafazkan umrah. Maka demikian ini sebagai dalil disyari’atkannya melafalkan niat karena mengikuti Nabi shalallahu wa sallam. Sebagaimana para sahabat juga melafadzkan demikian itu seperti diajarkan oleh Nabi shalallahu wa sallam dan mereka mengeraskan suara mereka. Ini adalah sunnah.[8]

Imam Nawawi v menjelaskan jika seseoarang menta’yin (menentukan) ihromnya, (umroh atau haji) maka yang afdhol dia tidak menyebutkannya dalam talbiyah, berdasarkan riwayat dari Nafi’ dia berkata Ibnu Umar pernah ditanya mengenai seseorang yang menyebutkan haji atau umrohnya, maka beliau berkata apakah engkau akan menceritakan kepada Allah yang mengetahui apa yang ada dalam hati kalian, hanyasannya hal itu adalah niat seseorang diantara kalian. Akan tetapi sebagian pengikut Imam Syafi’i mengafdholkan untuk menyebutkannya. Dengan berdalih hadits yang diriwayatkan dari Anasz, Rasulullah shalallahu wa sallam berkata ”Labaika bihujjatin wa umrotin”. [9]

Kebanyakan dari para salaf , seperti Atho’, Thowus, Qosim bin Muhammad, dan an-Nakhoi berpendapat bahwa dicukupkan niat ketika ihlal (talbiyah). Sebagaimana riwayat dari Ibnu Umarz tentang seseorang yang menyebutkan ihromnya. Dan Imam Malik mengatakan tidak disunahkan baginya untuk menyebutkan apa yang ia ihromkan.[10]

Menurut syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala tidak disyari’atkan bagi seseorang untuk mengucapkan sesuatu sebelum talbiyah. Tidak mengatakan Allahhumma inni uridu al-hajja wal umroh, atau fayasirhuly wa taqobalAllahu minni dan juga tidak mengatakan Nawaituhuma jami’an, atau ahromtu lillah, dab selainnya. Akan tetapi talbiyah di dalam haji sebagaimana takbir di dalam sholat.

Maka dalam hal pelafadzkan niat didalam ibadah haji terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama’. Pendapat Pertama: sunnah berdasarkan hadits Rasulullah shalallahu wa sallam yang diriwaytkan oleh Imam Muslim. Pendapat Kedua: pendapat yang tidak memperbolehkan sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala, Pendapat Ketiga: pendapat yang mengafdholkan untuk tidak menyebutkan niatnya berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radiyallahu anhu . Wallahu A’lam.

IV. Fatwa-Fatwa Para Ulama’ Berkenaan Dengan Melafadzkan Niat

1. Fatwa Lajnah Da’imah

Lembaga Lajnah Da’imah ketika ditanya mengenai hukum melafadzkan niat dalam ibadah sholat seperti mengatakan (Nawaitu an usholli lillahi rokataini …..) maka pertanyaan tersebut dijawab bahwa sholat adalah ibadah, dan ibadah adalah tauqifi. Sholat tidak disyari’atkan kecuali dengan apa yang ditunjukkan oleh al-Quran dan as-Sunnah. Tidak di dapatkan dari Nabi  shalallahu wa sallam untuk melafadzkan niat dalam sholat, baik sholat fardhu maupun nafilah. Kalaupun itu terjadi pasti para sahabat akan melakukannya, maka melafazkan niat dalam sholat adalah bidah secara muthlaq.[11]

Fatwa Syaikh Utsaimin

Menrut Syaik Utsaimin bahwa melafadzkan niat tidak dikenal di zaman Nabi n atau dari para Salafus Solih, ia merupakan perkara yang diada-adakan manusia. Sesungguhnya niat adalah didalam hati, Allah maha mengetahuai apa yang ada pada hati-hati hamba-Nya. Kalaupun melafadzkan niat adalah perkara yang baik pasti para Salafu Sholih akan mendahului kita dalam mengamalkannya. Tidak mungkin bagi orang yang berakal melaksanakan suatu perbuatan tanpa dia berniat, maka dari ini sebagian ahli ilmu mengatakan “Kalau Allah membebankan suatu amalan tanpa niat maka sungguh amalan itu dari perkara yang tidak bisa dilaksanakan.” Maka tidak seharusnya bagi manusia untuk mengucapkan niatnya baik dalam sholat maupu ibadah-ibadah lainnya. Baik secara sir (perlahan) maupun jahr (suara keras).[12]

Fatawa al-Azhar

Sesungguhnya niat adalah menyengaja dan ia merupakan amalan hati, tidak wajib melafadzkan niat dalam sholat. Sah dan tidaknya sholat tidak bisa ditentukan dengan ia melafadzkan niat atau tidak, baik sir maupun jahr. Syafiiyah menyebutkan bahwa melafadzkan niat adalah sunnah, dikarenakan dapat membantu hati. Malikiyah mengatakan bahwa melafadzkan niat menyelisihi yang utama, kecuali bagi orang yang was-was, dan hanafiyah menyebutkan ia merupakan amalan bid’ah, dan disunnahkan menurut mereka bagi yang was-was. Sedangkan Ibnu Qoyyim menyebutkan bahwa melafadzkan niat adalah bidah yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah n maupun para saabai-sahabat beliau.

Pendapat yang menyatakan bahwa melafadzkan niat adalah bid’ah tidak bisa diterima selamanya dalam penulisan bahwa ia adalah dholalah (sesat). Para ulama’ yang mulia berpendapat bahwa mereka menjadaikan melafadzkan niat sebagai amalan sunnah atau mandzub dalam keadaan tertentu, seperti rasa was-was, dan lainnya, dengan mengetahui bahwa melafadzkan niat tidak membahayakan. Dan terkadang bermanfaat.[13]

V. Penutup

Dari pembahasan diatas terdapat perbedaan dari para ulama’ mengenai hukum melafadzkan niat, sebagian berpendapat bahwa melafadzkan adalah bid’ah karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu wa sallam. Sebagian berpendapat ia sunnah karena bisa membantu mengingatkan hati, dan sebagian berpendapat penengah, bahwa melafadzkan niat tidak bisa dikatakan sesat secara muthlak, dia bermanfaat disebagian keadaan seperi rasa was-was dll, dengan berkeyakinan bahwa dia tidak berbahaya dan kadang bermanfaat.

Maka alangkah baik ibadah seorang hamba jika dikerjakan sesuai yang dilaksanakan Rasulullah shalallahu wa sallam maupun para sahabat beliau. Maka perlu kita perhatikan bahwa asli dalam ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. “al-Aslu Fil Ibadah Haram.” Mengenai melafadzkan niat ini tidak ada dalil yang khusus menyebutkan akan masalah ini, kecualai hanya dalam masalah haji saja. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab beliau Jamiul Ulum Wal Hikam. Wallahu A’lam Bi Showaab

Referensi:

♪ Al-Fikh al-Aislami Wa Adillatuhu. Wahabah az-Zahili

♪ Al-Fikh Alal Madzhab al-Arba’ah

♪ Al-Fikh al-Manhaji al Madzhab Imam as-Syafii. Darul al-Qolam Damisqi

♪ Majmu’ Syarh Muhadzab Ia-mam an-Nawawi, jus 7,

♪ Majmu’ Fatawa. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah jus 22

♪ Idhoh Fimanasikil Hajji Wal Umroh, Imam Nawawi

♪ Jamiul Ulum Wal Hikam. Ibnu Rajab al-Hanbali

♪ Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhus al-Ilmiyah Wal Ifta’

♪ Majmu’ Fatawa, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin

♪ Fatawa al-Azhar, Bab al-Jahru Binniyah,

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1249&bagian=0

1. Al-Fikh al-Aislami Wa Adillatuhu. Wahabah az-Zahili. Jus 1. hal: 151

2. Ibid. hal: 159

3. Majmu’ Fatawa. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah jus 22, hal 133

4. Al-Fikh al-Manhaji al Madzhab Imam as-Syafii. Darul al-Qolam Damisqi, jus 1, hal: 130

5. Al-Fikh Alal Madzhab al-Arba’ah. Jus 1

6. Jamiul ulum Wal Hikam. Jus 1. Hal 33. Dan al-Fikh al-Aislami Wa Adillatuhu. Wahabatu az-Zahili. Jus 3

7. Kitabul Idhoh Fimanasikil Hajji Wal Umroh, Imam Nawawi, hal 132

8. Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1249&bagian=0

9. Kitabul Majmu’ Syarh Muhadzab, Imam an-Nawawi, jus 7, hal 149. dan Kitabul Idhoh Fi manasikil Hajji Wal Umroh, Imam Nawawi, hal 132

10. jamiul ulum Wal Hikam. Jus 1. Hal 33

11. Fatwa lajnah daimah No 2444

12. Majmu’ Fatawa, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, jus 12, hal 441

13.Fatawa al-Azhar, Bab al-Jahru Binniyah, jus 9, hal 66

Categories: Fikih
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: