Beranda > Tafsir > Waspada Terhadap Hawa Nafsu (Qs. Yusuf 53)

Waspada Terhadap Hawa Nafsu (Qs. Yusuf 53)

PENDAHULUAN

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kita memujinya dan meminta pertolongan serta meminta ampun kepadanya. Kita berlindung dari keburukan jiwa-jiwa kita serta kejelekan amal perbuatan kita barang siapa yang di beri petunjuk oleh Allah maka tidak aka nada yang mampu menyesatkannya dan barang siapa yang di sesatkan maka tidak ada yang bias memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi  bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah.” Dalam hadits di atas, Rasulullah meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan secara umum dan dari apa yang muncul darinya yaitu berupa amal-amal serta dari akibat hal itu yang berupa perkara-perkara yang tidak disukai dan berupa siksaan-siksaan. Beliau mengumpulkan permohonan perlindungan dari kejahatan jiwa dan dari keburukan-keburukan amal.Allah berfirman mengenai bahayanya hawa nafsu

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Qs. Yusuf 53)

Oleh karenanya, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui apa dan bagaimana keburukan yang ada pada hawa nafsu, ayat-ayat yang menjelaskan tentangnya serta cara menanggulangi hal itu.

DEFINISI HAWA DAN NAFSU

Hawa maknanya adalah condong kepada sesuatu baik itu suatu kebaikan ataupun keburukan, condongnya jiwa untuk mengikuti sebuah keinginan. Jamaknya adalah ahwa’.Hawa juga bisa dimaknai dengan hawa nafsu, yaitu kemauannya. Firman Allah

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya Telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (Qs. An-Najm 23)

Ibnu Abbas mengatakan “Dinamakan dengan hawa karena menjatuhkan pelakunya kepada neraka”.

Adapun nafs maknanya adalah jiwa atau ruh. Jamak dari nafs adalah nufus atau anfus  Namun kata nafs ini telah menjadi kalimat yang berkonotasi negative, yaitu yang bermakna selalu mengajak kepada keburukan. Begitu juga dengan hawa. Hal ini juga sebagaimana telah disinyalir dalam Al Quran surat, yang mana memang pada asalnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan,

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Qs. Yusuf 53)

Ibnu Katsir berkata: “Yaitu (nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan) kecuali nafsu yang Allah menjaganya (dari keburukan )”. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada sesuatu yang diinginkannya, meskipun ia menyuruh kepada sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah ta’ala, kecuali Allah memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, maka Dia menyelamatkannya dari mengikuti hawa nafsu dan mentaatinya dari keburukan-keburukan yang diperintahkannya. Sesungguhnya Allah Maha memaafkan dari dosa-dosa bagi siapa yang bertaubat dari dosa tersebut dengan tidak menyiksanya. Adapun secara istilah yaitu yang menyelisihi petunjuk; kecondongan jiwa kepada apa yang diinginkannya, kecondongan hati kepada apa yang dicintainya meskipun hal itu keluar dari hukum-hukum syari’at. Maka setiap yang apa yang keluar dari yang diwajibkan oleh kitab dan sunnah maka berati itulah hawa. Dan ssetiap orang yang tidak mengikuti ilmu dan yang haq maka ia adalah shohibul hawa, Allah berfirman

’Dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’’. (QS. Al-An’am 119)

Manusia terbagi menjadi dua kelompok, satu kelompok dikalahkan oleh jiwanya kemudian dikuasai dan dihancurkannya, maka jadilah kelompok ini tunduk di bawah perintah-perintah jiwanya. Dan kelompok yang lain mereka bisa mengalahkan dan menguasai jiwa-jiwa mereka, maka jadilah jiwa mereka itu taat  kepada mereka dan patuh terhadap perintah-perintah mereka. Di dalam Al Qur’an Allah telah memberikan 3 sifat kepada jiwa yaitu : Al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Qs.  Al-Fajr 27-30. Al-lawwamah (jiwa yang mencela dirinya sendiri). Qs. Al-Qiyamah 2. Ammarotum bissu’ (yang selalu menyuruh kepada keburukan). Qs. Yusuf 53

AYAT-AYAT ALQUR AN YANG MENUNJUKKAN TERCELANYA HAWA NAFSU

Surat Al-Jatsiyah : 23

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Yaitu ia diperintah oleh hawa nafsunya, ketika hawa nafsunya memandang bahwa hal itu baik maka ia mengerjakannya, dan ketika hawa nafsunya memandang bahwa hal itu buruk maka ia meninggalkannya.Diriwayatkan dari Malik dalam tafsirannya yaitu tidaklah seseorang mengikuti sesuatu kecuali orang tersebut akan menghamba kepada yang diikutinya itu. Adapun makna lafadz wa adhollahullahu bi ‘ilmihi di sini mengandung dua makna yaitu: Allah menyesatkannya karena ilmu orang tersebut dan ia berhak atas kesesatan itu, adapun makna yang kedua mengatakan bahwa Allah telah menyesatkan dia setelah sampai ilmu dan sampainya hujjah kepadanya, dan pendapat yang kedua ini telah mencakup pendapat yang pertama.Maka dengan hal itu dia tidak bisa mendengar apa yang bermanfaat baginya, tidak kuasa terhadap sesuatu yang dengannya ia bisa mengambil petunjuk dan ia tidak bisa melihat hujjah-hujjah yang mana ia bisa memperoleh cahaya darinya.Ibnu ‘Athiyah mengatakan dalam tafsirnya yaitu “(ketika Allah menyebutkan bahwa Allah telah mengunci mati hati mereka dan pendengaran mereka) tidaklah menunjukkan bahwa ayat ini menjadi hujjah  bagi orang-orang Jabariyah, karena di dalam ayat itu juga ditetapkan adanya usaha bagi manusia yaitu firmannnya ittakhodza ilaahahu hawaahu”.Surat Al-Furqon 43-44

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?. Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Surat Al-Furqon 43-44)

Yaitu seseorang yang menganggap baik suatu perkara menurut hawa nafsunya maka itulah yang dijadikannya sebagai pedoman dan jalan hidup.Ibnu Abbas mengatakan, “Dahulu orang-orang jahiliyah menyembah sebuah batu yang warnanya putih, kemudian ketika mereka melihat (batu) yang lebih bagus dari itu maka mereka meninggalkannya (batu yang berwarna putih)”.Keadaan mereka (yang demikian itu) adalah lebih buruk dari binatang ternak yang digembalakan, hewan-hewan itu tidak tahu untuk apa mereka diciptakan, sementara mereka (manusia) diciptakan untuk beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, (tetapi) mereka enggan untuk menyembah Allah dan mereka menyekutukanNya setelah sampainya hujjah kepada mereka dan setelah diutus Rasul kepada mereka.   Suatu saat Al-Hasan ditanya oleh seseorang. “Apakah Ahli Kiblat (ummat Islam) ada yang berbuat syirik?”. Beliau menjawab, “ya.” Orang yang munafik itu telah berbuat syirik, sesungguhnya orang-orang musyrik itu menyembah matahari, bulan dan yang selain Allah, sementara orang munafiq menyembah hawa nafsu mereka”, kemudian beliau membacakan ayat di atas.Ibnu Abbas mengatakan tentang firman Allah Qs. Al-Furqon ayat 44 yang tersebut di atas: “Permisalan orang-orang kafir adalah seperti onta, himar dan kambing. Jika engkau mengatakan  sesuatu kepada hewan-hewan tersebut maka mereka tidak akan mengerti meskipun mereka mendengar apa yang engkau ucapkan. Begitu juga orang kafir, apabila engkau memerintahkan mereka kepada kebaikan atau melarang mereka dari suatu keburukan, ataupun engkau menasehati mereka maka mereka tidak akan mengerti apa yang engkau katakan meskipun mereka mendengar suaramu”.Dari penjelasan-penjelasan ulama tentang ayat di atas, maka wajib bagi kita untuk mengamalkannya, yaitu hendaknya setiap perbuatan mukallaf mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah sebagai bentuk ibadah kepadaNya. Apabila setiap perbuatan seseorang mengikuti hawa nafsunya, maka apa yang seharusnya menjadi hak Allah dari macam ibadah maupun ketaatan akan berpindah kepada hawa nafsunya. Maka jadilah ia orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai ilah.

AGAR SELAMAT DARI FITNAH HAWA NAFSU

Masalah-masalah ini seharusnya kita berikan perhatian khusus padanya karena pada intinya semua kesalahan dan dosa yang kita lakukan bersumber dari  buruknya hati kita. Dan nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan ini biasanya yang diserang pertama kali adalah hati kita, dan imbasnya nanti adalah kepada seluruh amalan kita.Untuk menghindarkan diri kita dari kekuasaan hawa nafsu maka ada 2 hal yang harus kita lakukan yaitu muhasabah jiwa dan mukhalafah jiwa. Dan jika kita mengabaikan keduanya maka hal itu akan menyebabkan kebinasaan bagi kita. Hal itu disebabkan karena dua hal di atas yaitu :Menabaikan untuk bermuhasabah pada jiwanya, Menuruti keinginan jiwa dan mengikuti hawa nafsunya (selalu menyetujui apa yang diinginkan oleh nafsu kita).Begitu pentingnya muhasabah jiwa ini sehingga banyak sekali para ulama salaf yang memberikan perhatian khusus pada hal ini. Imam Ahmad t menyebutkan dari Umar bin Al-Khattob z bahwa beliau berkata, “Hitung-hitunglah diri-diri kalian sebelum kalian dihitung, dan timbang-timbanglah diri-diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena sesungguhnya hal itu lebih ringan bagi kalian pada perhitungan (hisab) besok jika hari ini kalian menghitung diri-diri kalian. Dan berhiaslah untuk pameran yang besar (hari kiamat), pada hari itu kalian akan dihadapkan, tidak ada yang tersembunyi dari kalian sedikitpun”.Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya seorang hamba itu akan terus di dalam kebaikan selama dia mempunyai penasehat dari jiwanya dan (selama) muhasabah di antara cita-citanya (yang dipentingkannya).”Maimun bin Mihran mengatakan. “Seorang hamba itu tidak akan menjadi orang yang bertaqwa, sampai ia menghitung-hitung jiwanya melebihi sekutu terhadap sekutunya, oleh karena itulah dikatakan: ”jiwa itu seperti sekutu yang banyak berkhianat, jika engkau tidak mengitung-hitungnya, dia pergi membawa hartamu.”Ada  dua jenis muhasabah diri yaitu muhasabah sebelum beramal dan muhasabah sesudah beramal. Jenis yang pertama yaitu hendaklah (seorang hamba yang akan beramal itu) memahami dipermulaan cita-cita dan kehendaknya dan jangan segera beramal sampai jelas baginya kuatnya (mengerjakan) dari pada meninggalkannya.Adapun jenis yang kedua ini ada 2 macam yaitu :Menghitungnya atas satu ketaatan yang (jiwa itu) kurang dalam menunaikan hak Allah; Hendaklah dia menghitung jiwanya atas setiap amalan yang meninggalkannya itu lebih baik dari pada mengerjakannya;Hendaknya dia menghitung dirinya atas suatu perkara yang mubah atau kebiasaan, kenapa ia melakukannnya.PENUTUPSepantasnya bagi kita untuk mengubah kebiasaan kita, yang semula kita selalu dikendalikan oleh nafsu kita. Karena jika kita terus mengikuti kemauan dari hawa nafsu kita berarti kita telah menghamba kepadanya. Ibnu Taimiyah mengatakan: “barangsiapa yang keluar dari yang diwajibkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah dan mengikuti orang alim dan para ahli ibadah maka ia disebut dengan ahlul ahwa. Maka setiap orang yang mengikuti ilmu(saja) berarti ia telah mengikuti hawa nafsu. Ilmu adalah dengan agama yang tidak mungkin hal itu kecuali dengan petunjuk Allah yang telah mengutus RasulNya.

Maraji’
Al-Qur anul Karim
Ighatsatul Lahfan; Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah; Dar Ibnu Jauzi; 1424 H.
Tafsir Al-Qur anil ‘Azhim; Ibnu Katsir; Maktabah Darul Faiha Damaskus, Maktabah Darus Salam Riyadh;1418
HAd-durrul Mantsur Fi Tafsiril Ma’tsur; Imam As-Suyuti; Darul Fihr;Beirut; 1414
Adhwa ul Bayan; Asy-Syinqithi;Darul Fikr; Beirut; 1415
Muharror Al-Wajiz; Ibnu ‘Athiyah;1406
Tafsir Ath-ThabariAl-Mu’jam Al-WasithRosail Wad-dirosat fil ahwa wal-firoq wal bida’; DR Nashir bin A Karim Al-’Aql; Darul Wathan, Riyadh; 1423 H

Kategori:Tafsir Tag:
  1. Juli 28, 2013 pukul 1:50 pm

    Maha suci Allah

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: