Beranda > Tazkiyah > Bahaya Ghibah

Bahaya Ghibah

Oleh: Imannudin

I. Pendahuluan

Bahaya yang diderita oleh mayoritas aktifis dan kaum muslimin pada umumnya, bahkan nyaris tidak ada seorang pun yang dapat melepaskan diri daripadanya kecuali orang yang mendapat rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla, ialah ghibah, agar penderita terbebas dari bahaya ini dan agar orang disembuhkan dan diselamatkan oleh Allah Azza wa Jalla dari bahaya ghibah, maka perlu kita ketahui pengertian ghibah dan ancaman bagi pelaku ghibah.

Tidak sepatutnya bagi seseorang muslim  membicarakan kejelekan saudaranya sendiri, karena yang demikian tidak membawa kecuali kejelekan. Mengenai larangan membecarakan kejelekan (aib) orang lain, Allah berfirman dalam surat al Hujrot: 12

وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya:…..Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Dalam ayat ini Allah melarang menggunjing (ghibah) satu sama lain, ghibah adalah menceritakan perihal saudaranya yang ia tidak sukai, baik menyebut dengan lafadz, tulisan, atau mengedipkan mata atau menunjuk dengan tagan atau menganggukkan kepala. Seperti jalan dengan mengangguk-anggukkan atau semua perbuatan yang semisalnya.[1] Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah d ia bercerita:

قيل: يارسول الله, ما الغيبة ؟ قال ذكرك أخاك بما بكره, قيل: أفرأيت ‘إن كان في أخي ما أقول ؟ قال: إنكان فيه ماتقول, فقد اغتبته, وإن لم يكن فيه ما تقول, فقد بهته.

Artinya: Ditanyakan wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam apakah ghibah itu? Beliau menjawab: Engkau menceritakan perihal saudaramu yang tidak disukainya. Ditanyakan lagi Bagaimana bila keadaan saudaraku  itu sesuai dengan yang aku katakan,? Rasulillah shalallahu alaihi wa sallam menjawab: bila keadaan saudaramu sesuai dengan yang kamu katakan, maka itulah ghibah terhadapnya,. Dan jika paanya tidak terdapat apa yang engkau katakan, maka engkau telah berbohong.(HR. Abu Dawud)

II. Ghibah Menurut Pandangan Islam

Ghibah menurut pandangan lslam adalah haram berdasarkan ijma’ kaum muslimin, karena ada dalil-dalil yang terang dan jelas baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah

Allah ta’ala berfirman dalam al-quran surat al Hujrot 12

…..Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Adapun dalil dari hadits yaitu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Aisyah … beliau menceritakan, pernah aku katakan kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam “Cukuplah bagi kamu Sofiyah itu demikian, yang di maksud oleh Aisyah adalah bahwa Sofiyah itu orang yang pendek, maka Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “engkau telah mengatakan sesuatu kalimat, seandainyaq di campurkan dengan air laut, niscaya akan tercampur semuanya. Lebih lanjut Aisyah berkata lalu kuceritakan tentang seseorang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, maka beliau shalallahu alaihi wa sallam bersabda : aku tidak suka menceritakan seseorang sedang aku begini dan begitu.

Maksud Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidak suka menceritakan orang lain adalah menceritan aibnya, atau Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidak suka menyerupakan perbuatannya atau perkataannya atas jalan kejelekan.[2] Dari ini perlu di ketahui bahwa ghibah tidak hanya membicarakan kejelekan (aib) orang lain, tetapi ghibah bisa terwujud dengan perbuatan kita yang menyerupai perbuatan orang lain dengan maksud ghibah atau mengejek.

Di riwayatkan oleh al-Hafid al-Baihaqi dari Ubaid, maula Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, bahwasanya ada dua orang wanita yang berpuasa di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. ada seorang yang mendatangi beliau seraya berkata: ” wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sesungguhnya disini terdapat dua orang wanita yang tengah berpuasa, dan sesungguhnya keduanya hampir meninggal karena kehausan. Aku lihat ia berucap, lalu beliau berpaling darinya atau mendiamkanya. Kemudian ia berkata “Wahai Nabi Allah, demi Allah, sesungguhnya mereka berdua sudah meninggal atau hampir saja meninggal. “Maka baliau berkata: “Panggilah keduanya. “lalu kedua wanita itu pun datang. kemudian dibawakan gelas besar atau mangkuk besar, lalu beliau berkata kepada salah seorang dari keduanya “muntahkanlah. Maka wanita itupun mengeluarkan muntah darah dan nanah sampai mengeluarkan setengah gelas besar. Kemudian beliau n berkata kepada seorang wanita satunya: “muntahkanlah maka wanita itu pun mengeluarkan muntah darah, nanah, daging dan darah segar, juga yang lainnya hingga memenuhi gelas besar. Kemudian beliau shalallahu alaihi wa sallam bersabda “sesungguhnya wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah Ta’ala kepada keduanya dan tidak berpuasa dari apa yang diharamkan Allah bagi keduanya.”lalu salah seorang dari keduanya mendatangi wanita lainnya, selanjutnya keduanya memakan daging orang-orang (mengumpat). (Lubatu Tafsir min Ibnu Katsir)[3]

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad dari anas bin malik ia berkta, bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam

لما عرج بي مررت بقوم لهم أظفار من نحا س يحمسون وجوههم وصدورهم,فقلت من هؤلاء يا جبريل ؟ قال هؤلاء الذين ياكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم.

Ketika aku dimi’rojkan, aku melintasi suatu kaum yang memiliki kuku terbuat dari tembaga sedang mencakar-cakar wajah dan dada-dada mereka sendiri. Lalu aku betanya: ‘siapa mereka wahai jibril,? Jibril menjawab : mereka memakan daging manusia dan melanggar kehormatan mereka. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Dari hadits-hadits diatas sudah jelas bahwa ghibah adalah perbuatab tercela yang di haramkan. Sebagaimana di haramkan seseorang melakukan perbuatan ghibah dan mendengarnya, diharamknnya pula memperdengarkan dan mendiamkannya. Oleh karena itu wajib membantah orang yang melakukan perbuatan ini (ghibah). Sebagaimana hadits dari  Abu Darda’  dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

من رد عن عرض أخيه, رد الله  عن وجهه النار بوم القيامة

Artinya barang siapa yang membela kehorlatan saudaranya maka Allah akan menghalangi wajahnya dari api neraka di hari kiamat.

III. Dampak Dari Perbuatan Ghibah

Di antara dampak ghibah untuk individu dan masyarakat yang membahayakan dan mencelakakan seseoarang ialah:[4]

  • § Keras Hati

Pengumpat biasanya banyak bicara tanpa mengingat Allah, sebab dia mencela kehormatan orang lain dan menyantap daging mereka. Barang siapa yang banyak bicara tanpa mengingat Allah, maka kerasllah hatiya dan tidak pernah memperoleh kemampuan untuk memperoleh kebaikan.

  • § Menghadapi Murka dan Kemarahan Allah

Pengumpat yang telah melanggar batas-batas larangan Allah, berarti dia telah menjerumuskan dirinya ke dalam kemurkaan dan kemarahan Allah.

  • § Perpecahan

Perkara yang menyeret manusia kepada merajalelanya kejahatan, kerusakan, lamanya perjalanan (perjuangan), banyaknya beban dan bercokolnya musuh di pundak kita adalah kaena ghibah. Ghibah mengantarkan manusia kepada perkataan sia-sia yang menimbulkan kebohongan. Kebohongan yang menimbulkan permusuhan. Kemudian terjadilah saling serang menyerang dan terjadilah perpecahan.

IV. Beberapa Alasan Yang Ditolelir Dalam Ghibah

Beberapa hal yang ditolelir karena menyebut-nyebut keburukan orang lain adalah yang mempumyai tujuan yang benar menurut ukuran syari’at, yang tujuan ini tidak bisa tercapai kecuali dengan cara itu. Dalam keadaan seperti ini, dosa ghibah dianggap tidak ada.[5] di antaranya adalah:

  • Karena ada tindak kezaliman. Orang yang dizalimi boleh menyebutkan keburukan orang yang berbuat zalim terhadap dirinya dihadapan orang lain yang bisa mengembalikan haknya
  • Sebagai sarana untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang zalim kepada peramaian
  • Meminta fatwa. Seperti ucapan seorang kepada seorang mufti, “fulan manzalimi aku, dia mengambil hak ku. Lalu bagaimana jalan keluar yang bisa kulakukan.” Dalil tentang diperbolehkannya menyebutkan secara langsung adalah hadits Hindun tatkala berkata dihadapan Nabi shalallahu alaihi wa sallam,  “sesungguhnya Abu Sofyan adalah orang yang kikir”. sementara beliau tidak mengingkari perbuatan Hindun
  • Memperingatkan kepada orang-orang muslim, seperti menyebutkan seorang ahli fikih yang suka menemui ahl bid’ah atau orang fasik, yng dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negative yang lebih luas. Begitu pula jika engkau mempunyai seorang budak yang suka nencuri atau berbuat fasik, maka engkau boleh menyebutkan kejelekannya ketika hendak menjualnya.
    • Jika penuturannya bisa diketahui dengan julukan seperti menyebut orang yang di maksudkan dengan julukan si pincang atau lainnya. Dia boleh berkata seperti itu
    • Jika orang yang dighibah melakukan kefasikan secara terang-terangan dan dia tidak merasa terlecehkan jika dirinya disebut-sebut. Telah diriwayakan oleh Baihaqi dan Khatib dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam,  beliau bersabda: “Siapa yang menyingkirkan selubung rasa malu, maka tidak ada salahnya menggibahnya”. Al-Hasan pernah ditanya “Apakah menyebut diri seseorang yang melakukan kekejian secara terang-terangan disbut ghibah? Dia menjawab “Tidak, karena dia tiadak mempunyai kehormatan diri.

V. Bertaubat Dari Ghibah

Maka seharusnya bagi seseorang yang telah melakukan perbuatn ghibah hendaknya segera bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat, jumhur ulama’ mengatakan “jalan taubat yang harus ditempuh orang yang berbuat ghibah adalah dengan melepaskan diri darinya dan berkemauan keras untuk tidak mengulanginya kembali.

Apakah dalam taubat itu disyaratkan adanya penyesalan atas segala yang telah berlalu dan meminta ma’af kepada orang yang telah digunjingkan-nya itu? Mengenai hal tersebut, terdapat perbedaan pendapat. Ada ulama’ yang mensyaratkan agar meminta ma’af kepada orang yang digunjingkan. Ada yang berpendapat, tidak disyaratkan baginya meminta ma’af kepadanya. Karena jika ia memberitahukan apa yang telah digunjingkannya itu kepadanya, barangkali ia akan merasa lebih sakit daripada jika ia tidak diberi tahu. Dengan demikian, cara yang harus ia tempuh adalah memberikan sanjungan kepaa orang yang telah digunjingkannya itu di tempat-tempat di mana ia telah mencelanya. Selanjutnya ia menghindari gunjingan orang lain atas orang itu sesuai dengan kemampuannya. Sehingga gunjingan dibayar dengan pujian.[6]

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyebutkan bahwa ghibah termasuk dosa yang berkaitan dengan hak-hak Bani Adam maka di syaratkan didalamnya empat syarat, yaitu hendaknya berlepas dari dosa, ada rasa penyesalan, ber’azam untuk tidak mengulanginya dan meminta maaf kepada orang yang telah dighibah.[7]

Referensi:

  • Lubabu Tafsir Min Ibnu Katsir, DR.Abdulloh bin Muhamad bin ‘Abdurrohman bin Ishaq Alu Syaikh
  • Aunul Ma’bud Syarh Sanan Abu Dawud, Al’alamah Abi Thoyyib Muhamad Syamsul Haq Al-Adzim Abadiy
  • Al-Adzkar An-Nawawi, Imam Abi Zakariya bin Syarf An-Nawawi Ad-Damasyqi
  • Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah
  • Penyebab Gagalnya Dakwah, DR. Sayyid M.Nuh


[1] Al-Adzkar An-Nawawiyah, Muhiyudin Abi Zakariyah Yahya bin Syarf An-Nawawi Ad-Damasyqi Hal: 338

[2] Aunul Ma’bud Syarh Sanan Abu Dawud

[3] Dinukil dari Lubatu Tafsir Min Ibnu katsir, Surat Al-Hujrot: 12

[4] Penyebab Gagalnya Dakwah, Dr.Sayyid M.Nuh Hal:74

[5] Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah

[6] Lubabu Tafsir Man Ibnu Katsir

[7] Al-Adzkar An-Nawawiyah, Imam An-Nawawi Ad-Damasyqi Hal:  346

Kategori:Tazkiyah Tag:
  1. selvi
    Mei 10, 2010 pukul 3:59 pm

    semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan diatas

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: