Beranda > Tazkiyah > JIKA SUDAH TIDAK PUNYA MALU

JIKA SUDAH TIDAK PUNYA MALU

Oleh: Imanudien

Fenomena  yang terjadi pada masa sekarang ini betapa banyak manusia yang telah terang-terangan dalam melaksanakan kemaksiatan kepada Allah tanpa merasa enggan dan malu bahwa Allah melihat semua perbuatanya, maka jika manusia telah kehilangan rasa malunya baik malu kepada manusia terlebih kepada Allah, maka dia akan berbuat sesukanya tanpa memikirkan apakah itu perintah atau larangan. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: “Jika tidak punya malu maka berbuatlah sesukamu”.


Hadits-Hadits Keutamaan Malu Dan Perintah Berakhlak Dengannya

Dari Ibnu Umar radiyallahu anhu , yang diriwayatkan oleh bukhori dan muslm, bahwa Rasulullah pernah berjalan melewati seseorang, yang pada saat itu dia tengah mencela kepada saudaranya yang pemalu, seolah mengatakan malu ini berbahaya bagi kamu, maka Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersaba: “biarkan saja dia, karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.

Dari Imron bin Husain, dia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda “Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”. Dalam riwayat lain “Malu itu baik seluruhnya”. Atau beliau bersabda “Malu itu semuanya baik”.

Dalm hadits ini mengandung anjuran untuk berakhlak mulia, karena malu itu baik bagi individu maupun masyrakat, sebab didalamnya mengandung dorongan untuk melakukan hal yang baik dan meninggalkan perbuatan yang jahat. Berkata Kurtubi sesungguhnya sifat malu itu menjadaikan mulia bagi pemiliknya dengan memuliakannya orang lain kepadanya.

Makna malu yang dimaksudkan dalam beberapa hadits adalah yang bersifat syar’i. adapun malu yang muncul karena pelanggaran hak atau takut menghadapi orang yang melakukan kemungkaran bukan termasuk yang bersifat syar’i, tetapi ia merupakan satu bentuk kelemahan dan sifat hina lagi tidak baik meski disebut sebagai malu, karena kemiripannya dengan malu yang syar’i hanya dalam bentuk luarnya saja.[1]

Malu secara bahasa adalah berubah dan pecah yang menjadikan manusia terlepas dari ketakutan akan celaan. Adapun menurut syar’i adalah Akhlak yang menumbuhkan kepada menjahui kejelekan dan melarang dari mengurangi hak terhadap yang mempunyai hak. Seperti ini jaga yang dikatan oleh Al hafid[2]

Malu adalah akhlak yang mulia dan paling kuat didalam menumbuhkan perbuatan kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan yang jahat. Maka wajib bagi kita berpegang teguh terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita dari sifat malu ini, dan seharusnya bagi kita untuk selalu berhias dan berahlak dengannya.

Pada dasarnya malu adalah menahan kemudian merasa tertekan. Menahan adalah konsekuensi atau bukti  dari sifat malu. Dalam sebuah hadits menyebutkan yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Buhori dalam sohihnya dari Ibnu Masud Al-Badari

عن إبن مسؤد البدري قال: قال رسول الله   :إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى: إذا لم تستح,فاصنع ما شئت

Dari Ibnu Masud Albadari berkata: bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sesungguhnyadari apa yang bisa dipetik oleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama ialah:”jika engkau tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu.

Mengenai makna hadits ini ada dua pendapat.[3]

Pertama: Sesungguhnya makna hadits ini bukanlah perintah untuk berbuat apa saja, akan tetapi maknanya adalah celaan dan ancaman. Dalam hal ini ada dua cara. Pertama: berupa peringatan dan ancaman artinya jika tidak punya malu maka berbuatlah sesuaka hati karena sesungguhnya Allah akan memberikan imbalannya. Sebagaimana firman Allah Qs: Fushilat 40

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Kedua: berupa perintah bermakna khabar artinya siapa yang tidak malu berbuatlah sesukanya maka yang melarang dari perbuatan itu adalah malu itu sendiri, maka jika tidak mempunyai rasa malu dia akan segera melakukan perbuatan yang keji dan munkar hal ini sebagaimana hadits Rasulullah: ” Barang siapa yang berdusta kepadaku dengan sengaja maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka”. Sesungguhnya lafadz hadits ini adalah perintah yang bermakna khabar.

Kedua: Bermakna perintah berbuat sesuatu atas dhahir lafadl, artinya jika hendak berbuat sesuatu dari perbutan yang tidak dianggap malu dikarenakan perbutan itu dari amalan-amalan ketaatan dan akhlak yang baik, maka berbuatlah sesukanya. Pendapat ini yang dipilih oleh Imam Nawawi dalam fathul bahri[4]

Pendapat yang yang lebih kuat menurut DR. Mustofa Al-Bugho dan Muhyiddin Mistaw adalah pendapat pertama yaitu yang bermakna peringatan dan ancaman.[5]

Pembagian Malu

Malu yang terdapat pada diri manusia ada dua macam:

Malu fitriy yaitu malu sebagai akhlaq yang diberikan tanpa harus berusaha, ini adalah akhlaq yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Malu fitroh ini dapat menahan manusia dari berbuat kemaksiatan, kejelekan-kejelekan dan menahan dari akhlak yang rendah.

Oleh kerena itu malu adalah sumber perbuatan baik dan merupakan cabang dari keimanan. Sebagaimana hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam “Malu adalah cabang dari keimanan” , adapun Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling malu melebihi malunya gadis pingitan. Sahabat Umar pernah mengatakan tentang keutamaan malu:

من استحي اختفى, ومن اختفى اتق, ومن اتق واقي 

(barang siapa yang malu maka dia akan menahan, jika dia menahan maka dia bertaqwa, dan barbg siapa bertaqwa maka ia akan selamat).

Ibnu Abbas berkata:“iman dan malu adalah dua yang tidak bisa terpisahkan, jika hilang salah satu maka hilang yang lainnya”.

Malu yang didapatkan dengan ma’rifah kepada Allah, mengagungkan-Nya dan mendekatkan diri dalam beribadah. Maka barang siapa yang berusaha didalam mendapatkan sifat malu ini, dia berhak mendapatkan a’la husholil iman dan mendapatkan paling tinggi derajat ihsannya. hal ini sebagaimana hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam: “……Barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaknya meninggalkan keindahan dunia, maka barang siapa yang mengerjakan yang demikian itu sungguh dia telah malu kepada Allah”. Jika jiwa manusia ini terlepas dari sifat malu yang dihasilkan dengan berusaha dan hatinya kosong dari sifat malu fitri maka dia sudah tidak mempunyai sesuatu yang dapat menahan dari perbuatan-perbuatan jelek dan rendah, dan dia ketika itu menjadi sebagaimana seseorang yang tidak mempunyai iman.[6]

Malu Yang Tercela

Ketika malu menjadikan manusia menahan dari perbuatan ma’siat, kekurangan-kekurangan dan kejelekan-kejelekan maka malu disini merupakan akhlaq yang terpuji. Adapun ketika malu menjadikan bertambah melampaui batasan-batasan akal, sehingga menjadikannya berbuat sesuatu yang seharusnya tidak ada rasa malu dalam melaksanakannya atau di sebut juga dengan malu tidak pada tempatnya,  maka  keadaan seperti ini malu menjadi akhlaq yang tercela, sebagaimana malu yang menghalangi dari belajar  dan mendapatkan rizki, karena sesungguhnya tidak ada malu dalam belajar Ahkamu Addin dan tidak ada malu didalam mencari kebenaran, Allah berfirman dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Qs: Al-Ahzab: 53. Aisyah pernah berkata: sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor, malu tidak  menjadikan mereka terlarang untuk memahami dalam urusan agama. Berkata Mujahid: tidak belajar ilmu orang yang malu dan sombong.

Dan diriwayatkan dari mursalnya hasan Al-basri dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam “Adapun malu ada dua yaitu ujung dari keimanan dan malu yang lemah (al-Ajzu)”. Berkata Imron … sesunguhnya malu terpuji yang dibicarakan oleh Nabi hanyasanya yang diinginkan adalah ahlak yang menumbuhkan atas perbuatan yang baik dan meninggalkan yang jelek. Adapun malu yang lemah yang mengurangi dari hak-hak Allah atau hak-hak hambaNya tidaklah dinamakan dengan malu akan tetapi merupakan bentuk kelemahan dan kehinaan.[7]

Buah Dari Malu

  • § Dari buah malu adalah Al-Iffah (menjaga kehormatan), maka barang siapa yang memiliki sifat malu disemua perbuatanya, maka dengan pasti dia akan menjaga kehormatannya.
  • § Al-Wafa’ (menepati janji), Berkata Ahnaf bin Qois: Dua yang tidak akan berkumpul didalam diri manusia selamanya yaitu al-kadzbu (kedustaan) dan muru’ah (wibawa). Dan buah dari muru’ah adalah kejujuran, menepati janji, malu dan iffah.[8

WAllahu A’lam

Referensi:

  • Fathul Baary. Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqolani
  • Syarah Riyadhush Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali
  • Aunul Ma’but . Abi Thoyib Muhamad Syamsul haq AlAdzim Abadi.
  • Tuhfadul Ahwadiy. Abi Ula Muhamad Abdurrohman ibnu Abdurrohim Al-mubarok Fuuriy.
  • Jami’ul Ulum Wal Hikam Li Ibni Rojab Al-Hanbali
  • Alwafi Fi Syarhi Al-Arba’in An-nawawi

[1] Syarah Riyadhush Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dan Fathul Bahri

[2] Aunul Ma’but . Abi Thoyib Muhamad Syamsul haq AlAdzim Abadi. Jus: 8. hal: 193 dan Tuhfadul Ahwadiy. Abi Ula Muhamad Abdurrohman ibnu Abdurrohim Al-mubarok Fuuriy. Jus:5, Hal:417

[3] Jami’ul Ulum Wal Hikam Li Ibni Rojab Al-Hanbali

[4] Fathul Bari

[5] Alwafi Fi Syarhi Al-Arba’in An-nawawi

[6]Jami’ul Ulum Wal Hikam dan Alwafi Fi Syarhi Al-Arba’in An-nawawi

[7] Syarhu Sunnah LiAbi Muhamad Al-Husain bin Masud Al-Baghowi dan ……….

[8] Alwafi Fi Syarhi Al-Arba’in An-nawawi. Hal:153

Kategori:Tazkiyah Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: