Beranda > Fikih > PERIHAL QURBAN

PERIHAL QURBAN

Oleh: Imanudien

Muqoddimah

Segala puji bagi Allah azza wa jalla, Robb semesta alam yang telah mengatur segala yang ada di bumi, dilangit dan segala apa yang ada diantara keduanya. Sholawat dan Salam terlimpah kepada baginda Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, keluarganya, sahabat-sahabtnya dan orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Semoga kita tergolong orang-orang yang bias mengikiti jalan beliau. amin


Qurban merupakan Amalan terpuji. Allah memerintahkan ibadah ini kepada hambanya yang mampu untuk melaksanakannya dan qurban merupakan amalan yang sangat bernilai tinggi disisi Allah, bahkan ia lebih tinggi dari shodaqoh yang seharga dan semisal dengannya. Karena melihat pentingnya masalah ini  sedikit penjelasan berkenaan dengan perihal qurban, yang semoga dengan ini bisa menjadikan amalan ibadah qurban kita diterima disisi Allah sebagai amalan yang sholih. amin..

Pengertian dan Hukum Berqurban

Qurban (Al Adhohi) adalah jama’ dari dhohiyah yaitu sesuatu yang disembelih dihari nahr untuk mendekatkan diri kepada Allah. Imam Nawawi berkata bahwa didalam hal ini ada empat bahasa yaitu Adh-Hiyah, (jama’nya Adhoohi), Udh-Hiyah dengan mendhomahkan hamzah atau menkasrohkannya,(jama’nya Adhoohi), Dhohiyah (jama’nya Dhohaaya) dan Adh-haah (jama’nya Adh-Ha). (Aunul Ma’bud, Juz 5 hal 219)

Para ulama’ telah sepakat atas disyariatkannya qurban, sebagaimana firman Allah Qs: Al Kautsar 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”

Sebuah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari sahabat Abu Hurairah

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا (رواه أحمد وإبن ماجه

“Barang siapa yang mampu melaksanakan qurban, kemudian ia tidak berqurban maka janganlah ia mendekati tempat sholat kami.” (HR. Ahmd dan Ibnu Majah)

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum berqurban, jumhur ulama’ diantaranya Imam Syafii dan Ahmad berpendapat bahwa qurban adalah sunnah muakkad bagi siapa yang mampu melaksanakannya.

Syarat-Syarat Dalam Tadh-Hiyah

Imam An-Nawawi mensyaratkan dalam tadh-hiyah (penyembelihan) empat syarat yaitu:

  1. Hendaknya yang disembelih dari na’am yaitu onta, sapi, kambing baik jantan maupun betina.
  2. Masuk waktu yaitu ketika matahari telah muncul dihari nahr (adha), dan diperkirakan dua rakaat dan dua khothbah yang ringan, sampai tenggelamnya matahari dihari ketiga dari hari-hari tasyarik.
  3. Ahliyatu dzabih (kemampuan untuk melaksanakan penyembelihan), disunahkan bagi orang yang berkorban untuk menyembilih sendiri hewan yang ia korbankan, dan diperbolehkan baginya untuk mewakilkan dalam penyembelihan kepada siapa yang halal untuk menyembelih, yang utama hendaknya ia mewakilkan terhadap orang muslim yang faqih, dan tidak boleh mewakilkan kepada orang Majusi atau penyembah berhala.
  4. Addzabh (penyembelihan), yaitu membunuh dengan memutus semua hulqum (kerongkongan) dan juga mari’ dari hewan yang ditetapkan hidup, dengan alat selain dari tulang dan kuku.

Umur Hewan Untuk Korban

Hadts Rosululloh shalallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh jamaah kecuali Imam Bukhori dan Tirmidzi.

عن جبر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لاتذبحو إلامسنة إلا أن يعسر عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن

“Dari Jabir radiyallahu anhu ia berkata Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian menyembilih kecuali musinnah, kecuali jika menyulitkan kalian maka sembelihlah Aljud’u dari domba (dho’nu)” (HR. Jamaah kecuali bukhori dan Tirmidzi)

Musinnah adalah telah tanggalnya gigi, dari onta, sapi, kambing dan yang diatasnya (onta lima tahun, sapi dua tahun / memasuki tahun ke-3 dan kambing satu atau dua tahun). Sedangkan Aljud’u adalah talah sempurna berumur satu tahun. Hadits ini menjelaskan bahwa tidak boleh dan tidak mencukupi berkurban dengan aljudu kecuali jika sulit bagi orang yang berkorban untuk mendapatkan musinnah. Berkata Ibnu Umar dan Auzai tidak boleh berkorban dengan Aljud’u dari domba maupun yang lainnya secara muthlak. Imam Nawawi mengatakan bahwa madzhab para ulama’ dan ini adalah penadapat jumhur dibolehkan dengan Aljud’u baik ada Musinnah atau tidak, hadits ini bermakna anjuran (istihbab) dan keafdholan. Artinya disunnahkan bagi kalian untuk tidak menyembelih kecuali Musinnah, jika menyulitkan bagi kalian maka menyembelih dari domba (aljud’u).

Menurut Imam Nawawi rahimallahu ta’ala, Aljud’u adalah yang telah sempurna satu tahun, dikatakan yang telah sempurna enam bulan, dan dikatalan pula delapan bulan, yang paling sahih menurut beliau dan juga jumhur ahlu ilmu adalah pendapat pertama yaitu satu tahun yang sempurna. (Nailul Author, 3 / 474 )

Musinnah (tsinniyah) onta adalah yang telah sempurna umurnya lima tahun, tsiniyah sapi yang sempurna dua tahun dan masuk tahun ketiga, tsiniyah kambing yang paling benar adalah yang telah sempurna dua tahun dan masuk tahun ketiga, dikatakan yang sempurna satu tahun.( Raudho Attholibin wa Umdatul Muftiin, Juz3)

Mengenai berkurban dengan kambing (ma’iz) Jud’u (berumur satu tahun / enam bulan), jumhur berpendapat tidak mencukupi dan tidak boleh, sedangkan menurut Atho’ dan Auza’i mereka membolehkan secara muthlaq. Imam An Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang membolehkan adalah pendapat nyleneh (syad). Dalam sebuah hadits dikatakan Sesungguhnya Nabi Muhammad memberikan kepada Uqbah bin Amir kambing, yang dibagikan kepada para sahabatnya, maka tersisa untuknya ‘Atuud, maka beliau mengungkapkannya kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda: Berkorbanlah dengannya, Uqbah bin Amir berkata ‘Atuud adalah dari anak kambing (ma’iz) yang tidak dikembala, telah kuat dan sampai kepada nishab (satu tahun). (HR. Jamaah kecuali Abu Dawud).

Berkata Al Baihaqi dan selainnya dari Syafi’iyah dan dari yang lain juga bahwa hadits ini adalah rukhsho bagi Uqbah bin Amir, sebuah hadits dengan sanad yang sohih dari Uqbah bin Amir ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah memberikan kepadaku kambing ia bagikan kepada para sahabat, maka tersisalah ‘Atuud, kemudian Rasulullah bersabda berkorbanlah kamu dengannya dan tidak ada rukhshoh setelahmu. (HR, Al Baihaqi). Jadi berqurban dengan kambing yang berumur satu tahun (Aljud’u) tidak diperbolehkan dan ia merupakan keringanan (rukhshoh) yang khusus diberikan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada Uqbah bin Amir.

Keafdholan Diantara Hewan-Hewan Qurban

Dalam Al Majmu’ disebutkan onta lebih afdhol dari sapi karena onta lebih besar badannya, sapi lebih afdhol dari kambing karena kambing sepertuju dari sapi, kambing lebih afdhol dari onta dan sapi yang musyarokah didalamnya tujuh orang karena sendirinya dalam menumpahkan darah dan domba lebih afdhol dari kambing.

Disunahkan pada hewan qurban adalah yang paling sempurna, paling gemuk dan juga paling mahal. Imam Syafi’i mengatakan banyak harga lebih afdhol dari memperbanyak jumlah. Lebih afdhol juga berwarna putih kemudian kuning kemudian ghobraa’ yaitu yang tidak bersih / sempurna putihnya, kemudian Albalqo’ yaitu sebagian putih dan sebagian hitam kemudian yang terakhir hitam. Dan hewan qurban jantan lebih afdhol dari betina. (kitabul Majmu’ Imam Nawawi, 8 / 224)

Waktu Penyembelihan Hewan Qurban

Waktu penyembelihan pertama adalah setelah sholat idhul adha ini adalah pendapat Ahmad dan Hanafi, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim yaitu ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam selesai dari sholat id beliau melihat kambing telah disembelih maka beliau bersabda: “Barang siapa yang menyembelih sebelum sholat maka hendaknya dia menyembelih kambing sebagai penggantinya” (HR. Muttafaq Alaih)

Menurut Hanafiyah waktu korban adalah setelah matahari terbit, akan tetapi disyaratkan terhadap penduduk kota untuk menyembilih setelah sholat idhul adha walaupun sebelum khothbah, tapi yang lebih afdhol adalah setelah khotbah. Tidak diharuskan untuk menunggu seleseainya semua sholat idhul adha yang dikerjakan oleh kaum muslimin, jika sholat idhul adha dikerjakan berbilang (beberapa tempat), akan tetapi cukup dengan selesainya salah satu tempat dalam mengerjakan sholat idh, seperti ini adalah pendapat dari Hanabilah.

Menurut Syafi’iyah waktu qurban adalah jika telah terbit matahari dihari adha, diperkirakan dengan waktu sholat idhul adha, dan dua khatbah, jika ia menyembelih diwaktu ini, maka di perbolehkan, baik imam atau orange yang berqurban mengerjakan sholat atau tidak, baik penduduk negeri maupun penduduk desa, seperti ini juga yang dikatakan oleh Dawud dan Ibnu Mundzir.

Waktu terakhir penyembelihan hewan qurban menurut madzhab Imam Syafi’i adalah tenggelamnya matahari dihari ketiga belas dari Dzulhijjah dan pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Mundzir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sedangkan menurut madzhab Imam Ahmad adalah tenggelamnya matahari dihari kedua belas dari Dzulhijah. (Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram Juz 7 / 81 dan Al fikh Ala madzhabil Arbaah, Abdurrahman Aljaziri, juz 1 / 578)

Referensi:

@  Aunul Ma’bud oleh Abu Thoyyib Muhamad Samsul Haq Al Abadiy

@  Taudhihul Ahkam oleh Abdulla bin Abdurrahman Al Bassami

@  Raudhot Attholibin wa Umdatul Muftiin, oleh Imam An Nawawi

@  Nailul Author, oleh Muhamad bin Ali bin Muhamad As syaukani

@  Kitabul Majmu’ oleh Imam Nawawi,

@  Al fikh Ala madzhabil Arbaah, oleh Abdurrahman Aljaziri

@  Assyrhul Mumti’ Ala Zaadil Mustaqni’ oleh Muhamad Sholeh Al Utsaimin

Kategori:Fikih
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: