Beranda > Fikih > Membaca Al Fatihah Bagi Makmum

Membaca Al Fatihah Bagi Makmum

Oleh: Ahmad Taufiqurrahim

MUQADDIMAH

Surat Al Fatihah adalah ummul qur’an dan ruhnya, karena di dalamnya terkumpul berbagai macam pujian dan sifat yang tinggi dan mulia bagi Allah, di dalamnya terdapat penetapan kerajaan dan kekuasaan Allah, hari kebangkitan dan pembalasan, serta ibadah hanyalah untuk Allah, dan di dalamnya juga ada penetapan macam tauhid, dan pembebanan.

Dalam makalah ini, kami membahas tentang hukum membaca Al Fatihah bagi makmum dalam shalat, masalah ini kami angkat karena kami memandang adanya ta’arrudh (pertentangan) antara dua dalil, yaitu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah bersabda :

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surah al-fatihah (fatihatul kitab).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan akan wajibnya membaca al fatihah dalam shalat.

Akan tetapi di sisi lain, dalam firman Allah surat al A’raf ayat 204,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”

Kita diperintahkan untuk mendengarkan dan diam apabila al-Qur’an dibacakan, ini berarti ketika imam membaca alfatihah dan surat dengan keras (jahr), maka bagi makmum wajib mendengarkannya.

Untuk mengetahui hukum membaca al fatihah bagi makmum, alangkah baiknya kalau kita mengetahui terlebih dahulu  hukum membaca al fatihah dalam shalat.

HUKUM MEMBACA AL FATIHAH DALAM SHALAT

Dalam masalah hukum membaca Al Fatihah, empat imam madzhab bersepakat atas wajibnya membaca Al Fatihah dalam shalat. Dan ia merupakan salah satu rukun-rukun shalat, kecuali Hanafiyah. Dan yang mereka perselisihkan, hanyalah hukum dalam membaca al fatihah untuk makmum.

Berikut ini adalah pendapat empat imam madzhab tentang hukum membaca al fatihah dalam shalat :

Madzhab Hanafiyah

Menurut madzhab Hanafiyah, membaca Al fatihah bukan fardhu dalam shalat secara mutlak, baik dalam shalat sirriyah, maupun shalat jahriyyah, baik untuk imam maupun makmum, bahkan mereka memakruhkan membacanya bagi makmum.

Karena menurut mereka yang menjadi rukun atau yang wajib dalam semua raka’at adalah membaca ayat dari al-Qur’an, baik shalat fardhu, nafilah, ataupun witir bagi imam dan juga munfarid (orang yang shalat sendirian).

Dalil mereka adalah :

@Firman Allah Qs. Al-Muzammil 20 yang artinya “Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran”

@Tidak boleh menambah dengan khabar Ahad yang dhanni selama ada dalil yang mewajibkannya dengan dalil qath’i dalam al qur’an.

@Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam

إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء, ثم استثقبل القبلة فكبر, ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن

“Jika engkau shalat maka sempurnakanlah wudlu dan menghadaplah ke arah kiblat. Kemudian takbir dan bacalah ayat al Qur’an yang mudah menurut kamu.” (HR. Bukari)

@Adapun hadits Rasulullah “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al fatihah.” maka hadits ini dibawa kepada peniadaan fadhilah shalat, bukan peniadaan keshahihan  shalat, sebaimana perkataan “tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali shalat di dalamnya.” Bukan berarti bahwa  orang yang shalat di rumah tidak sah.

Jumhur Madzhab (selain Hanafiyah)

Jumhur ulama’ selain hanafiyah yaitu Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa sesungguhnya membaca Al Fatihah merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun shalat, karena tidak sah shalat tanpa membaca al fatihah,

Pendapat mereka ini didasarkan pada sabda Nabi  “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca alfatihah. Dan sabda beliau juga ” Tidak sah shalat kecuali harus membaca didalamnya fatihatul kitab (al fatihah).”(HR. Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hiban)

Syeikh ‘Utsaimin dalam Majmu’ Fatawanya mengatakan bahwa Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah membaca Al Fatihah dalam shalat,” ada beberapa pendapat diantaranya :

Pertama : Bahwa Al Fatihah tidak wajib baik itu untuk imam, maupun makmum dan untuk orang yang shalat sendiri, dan tidak wajib baik itu shalat sirriyah maupun shalat jahriyah, dan yang wajib adalah membaca apa saja yang mudah dibaca dari al qur’an dan mereka berdalil dengan firman Allah dalam Surat al-Muzammil 20. (sebagaimana pendapat Hanafiya)

Kedua : Bahwa membaca al fatihah adalah rukun bagi imam, makmum, munfarid (orang yang shalat sendiri), pada shalat sirriyah dan jahriyah, bagi yang masbuk (orang yang tertinggal shalatnya) dan untuk yang masuk pada jama’ah sejak awal shalat.

Ketiga : Bahwa membaca Al Fatihah adalah rukun untuk imam, munfarid (orang yang shalat sendiri) dan ia tidaklah diwajibkan bagi makmum secara mutlak baik pada shalat sirriyah maupun shalat jahriyyah.

Keempat : Bahwa membaca Al Fatihah adalah rukun bagi imam, munfarid (orang yang shalat sendirian) pada shalat sirriyah dan shalat jahriyyah, dan ia adalah rukun bagi makmum pada shalat sirriyyah dan tidak wajib pada shalat jahriyyah.

Menurut Syeikh Utsaimin bahwa membaca Al Fatihah adalah rukun bagi imam, makmum, munfarid (orang yang shalat sendirian) pada shalat sirriyyah, dan jahriyyah, kecuali yang masbuk (makmum yang tertinggal raka’at) apabila ia mendapati imam sedang ruku’, maka kewajiban membaca Al Fatihah gugur dalam kondisi seperti ini, dan yang menjadi dalil atas pandapat ini adalah keumuman sabda Nabi “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al fatihah.”

Dan sabda Nabi ` :

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ

“Barangsiapa mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an (Al Fatihah) maka shalatnya kurang, kurang, kurang dan tidak sempurna.” (HR. Abu Daud)

Dan juga hadits ‘Ubadah bin Shamit bahwa Nabi selasai dari melaksanakan shalat subuh maka Nabi bersabda kepada para sahabat :

لعلكم تقرؤون خلف إمامكم ؟ قالوا : نعم يارسول الله ,قال :لاتفعلوا إلا بأم القرأن , فإنه لاصلاة لمن لم يقرأ بها

“Kalian membaca dibelakang imam? Mereka menjawab benar wahai Rasulullah, maka beliau bersabda janganlah kalian melakuakan hal tersebut kecuali hanya membaca ummul quran (al fatihah), karena sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.” (HR. Abu Daud)

Dan inilah nash-nash yang berkaitan dengan shalat jahriyyah.

Adapun gugurnya kewajiban membaca Al Fatihah bagi makmum yang masbuk, maka hal ini beralasan dengan dalil, hadits Abu Bakrah bahwa ia mendapati Nabi sedang dalam keadaan ruku’. Lalu ia berlari dan ruku’ sebelum masuk ke dalam shaf, kemudian masuk ke dalam shaf, maka tatkala Nabi selasai dari melaksanakan shalatnya beliau bertanya tentang siapakah yang melakukan perbuatan tadi, maka Abu Bakrah berkata : saya wahai Rasulullah, maka Nabi berkata :  semoga Allah menambahkan kesungguhan bagimu.

Dan Nabi tidak memerintahkannya untuk mengulangi raka’at yang dia terburu-buru dalam mendatanginya agar ketinggalan, dan kalau Al Fatihah itu wajib maka Rasulullah benar-benar akan menyuruh untuk mengulanginya, sebagaimana beliau memerintahkan orang yang tidak tuma’ninah dalam shalatnya, inilah dari sisi dalil dari atsar.

HUKUM MEMBACA AL FATIHAH BAGI MAKMUM

Telah kita ketahui bahwa para Imam sepakat akan wajibnya membaca Al Fatihah dalam shalat kecuali Imam Abu Hanifah, dan sesungguhnya yang mereka perselisihkan adalah pada hukum membaca Al Fatihah bagi makmum.

Ada beberapa pendapat mengenai hal ini, sebagaimana diungkapkan oleh Syeikh ‘Utsaimin dalam kitabnya “asy Syarhul al Mumti’ ala Zadil Mustaqni’” diantaranya :

#Bahwa bagi makmum tidak wajib membaca Al Fatihah secaara mutlak, baik dalam shalat sirriyyah maupun dalam shalat jahriyyah, dalilnya adalah hadits

من كان له إمام فقراءة الإ مام له قراءة

“Barang siapa yang menjadi makmum, maka bacaan imam menjadi  bacaannya juga”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Akan tetapi hadits ini tidak sah dari Nabi, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “bahwa hadits ini diriwayatkan dari Jabir secara mauquf dan ini adalah pendapat yang shahih. Sedangkan Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari, “Bahwa hadits ini adalah dha’if (lemah) menurut para hufadz.”

Dan seandainya hadits ini takdirnya shahih, hadits ini tidak menunjukkan bahwa makmum tidak wajib membaca pada shalat siriyyah dan jahriyyah. Hadits ini hanyalah menunjukkan bahwa tidak wajib membaca bagi makmum pada shalat jahriyyah saja, apabila mendengar makmum mendengar bacaan dari imam, karena hadits ini menunjukkan bahwa makmum mendengar bacaan imam maka cukuplah bacaan imam baginya, akan tetapi hadits ini lemah sebagaimana dijelaskan di atas, dan ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah.

#Bagi makmum wajib membaca Al Fatihah pada setiap shalat, baik jahriyah maupun shalat sirriyyah, dan ini berlawanan dengan pendapat yang pertama, pendapat ini berdasarkan pada keumuman sabda Nabi, “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca fatihatul kitab (al fatihah).”

Dan hadits Rasulullah yaitu ketika beliau selesai dari melaksanakan shalat fajar dan berat baginya bacaannya. Maka tatkala selesai dari shalatnya beliau bersabda, “Kalian membaca dibelakang imam? Mereka menjawab benar wahai Rasulullah, maka beliau bersabda janganlah kalian melakuakan hal tersebut kecuali hanya membaca ummul quran (al fatihah), karena sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Inilah pendapat yang terkenal dari madzhab Imam Syafi’I, dan Ibnu Muflih murid Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah

#Bahwa membaca Al Fatihah wajib bagi makmum dalam shalat sirriyyah saja, dan tidak wajib pada shalat jahriyyah. Pedapat ini berdasarkan sebuah hadits;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنْ صَلَاةٍ جَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ هَلْ قَرَأَ مَعِي أَحَدٌ مِنْكُمْ آنِفًا قَالَ رَجُلٌ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنِّي أَقُولُ مَا لِي أُنَازَعُ الْقُرْآنَ قَالَ فَانْتَهَى النَّاسُ عَنْ الْقِرَاءَةِ فِيمَا جَهَرَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِرَاءَةِ مِنْ الصَّلَاةِ حِينَ سَمِعُوا ذَلِكَ

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam setelah shalat yang bacaannya diperdengarkan, beliau bersabda: “Apakah tadi ada salah seorang dari kalian yang ikut membaca ayat Al Qur’an bersamaku?” Seorang laki-laki menjawab.”Ya, wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam!” Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam lalu bersabda: “Aku mengatakan bahwa kalian jangan menyelisihiku dalam bacaan Al Qur’an?!” Abu Hurairah berkata; “Setelah mendengar sabda Nabi tersebut orang-orang tidak membaca Al Qur’an lagi pada shalat yang Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam mengeraskan bacaannya.” (HR. Nasa’i)

Karena dalam shalat jahriyyah, apabila Imam membaca maka bacaannya adalah bacaan untuk makmum, dan dalil yang menunjukkan bahwa bacaan imam merupakan bacaan makmum adalah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa makmum mengaminkan bacaan imam ketika mengucapkan “waladdhallin”, seandainya bacaan imam itu bukan bacaan makmum, maka mengucapkan  “Amin” untuk bacaan imam tidak sah, karena orang yang mengaminkan do’a itu seperti orang yang berdo’a dengan dalil Firman Allah Qs. Yunus 88-89

“Musa berkata: “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Tuhan Kami – akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan Kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, Maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” AlIah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang Lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak Mengetahui”.”

Dalam nash ayat ini yang berdo’a adalah Nabi Musa, para ulama’ berkata : karena Musa yang berdo’a dan Harun yang mengaminkan, maka Allah menisbatkan do’a pada keduanya padahal yang berdo’a cuma satu orang, akan tetapi tatkala orang yang kedua diam dan mengaminkan do’annya, maka do’anya menjadi do’anya pula.

Syeikh ‘Utsaimin berkata, “Apabila imam membaca al fatihah dan kamu diam lalu mengaminkannya maka seperti orang yang membaca, oleh karena itu membaca al fatihah tidak wajib bagi makmum dalam shalat jahriyyah apabila mendengar bacaan al fatihah imam, inilah pendapat yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Di Dalam kitab Al Mughni karya Ibnu Qudama al Maqdisi disebutkan bahwa Imam beliau, Az Zuhri, Ats Tsaury, Malik, Ibnu ‘Uyainah, Ibnu Mubarak, Ishak, dan Imam Syafi’I, mereka berpendapat bahwa makmum apabila ia mendengar bacaan imam tidak wajib baginya untuk membaca Al Fatihah, bahkan tidak disunnahkan, berdasarkan firman Allah dalam surat al A’raf : 204, dan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tersebut diatas.

Menurut Syeikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin Pendapat yang rajih (lebih benar) dalam masalah ini adalah membaca Al Fatihah adalah wajib bagi makmum dalam shalat jahriyyah maupun dalam shalat sirriyyah, dan kewajiban ini tidak gugur kecuali apabila makmum mendapati imam sedang ruku’ atau mendapatkan imam berdiri, akan tetapi ia tidak sempat menyempurnakannya sehingga imam ruku’, maka gugurlah kewajiban membaca al fatihah dalam kondisi seperti ini.

KAPAN MAKMUM MEMBACA AL FATIHAH

Syeikh ‘Utsaimin berpendapat bahwa yang afdhal adalah makmum membaca Al Fatihah setelah imam membaca Al Fatihah, ia mendengarkan al fatihanya imam karena merupakan rukun. Makmum membaca al fatihah ketika imam membaca ayat-ayat lain karena bacaan ayat-ayat tersebut merupakan sunnah (tathowu’) dalam shalat.

Dan diantara Ulama’ berpendapat bahwa Al Fatihah di bacab ketika imam diam, sebelum membaca ayat-ayat lain.

Abu Salamah bin Abdurrahman berkata : “Imam itu mempunyai dua waktu diam, maka manfaatkanlah pada dua diamnya imam, untuk membaca fatihatul kitab (Al Fatihah) yaitu : pertama apabila imam masuk dalam shalat, dan yang kedua, ketika imam mengucapkan “waladhallin”.

‘Urwah bin Zubair berkata : “adapun saya memanfaatkan dari dua diamnya imam pada dua waktu yaitu : pertama, apabila imam mengucapkan “waladhallin”, maka bacalah ketika itu, dan kedua ketika imam menutup bacaan surat, maka bacalah sebelum imam ruku’.”

KESIMPULAN

Dari uraian di atas, maka penulis simpulkan sebagai berikut:

*Shalat tidak sah bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah, karena Al Fatihah adalah rukun daripada rukun-rukun shalat, baik untuk imam, makmum, dan munfarid, baik shalat jahriyyah maupun shalat sirriyyah.

*Yang rajih dari perbedaan pendapat tentang hukum membaca al Fatihah bagi makmum adalah wajib baginya untuk membaca Al Fatihah baik dalam shalat jahriyyah maupun sirriyyah.

Wallahu A’lam

DAFTAR PUSTAKA

  • Tafsirul qur’anil ‘Adhim, karya Al Hafidz imaduddin Abil Fida’ Ismail bin Katsir al Qarsyi ad Dimsyaqy, Daarus salam, Riyadh.
  • Al Mughni, karya Muwaffiquddin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudama’ Al Maqdisy ad Dimsyaqy al Hambaly, ditahqiq oleh Dr. M.Syarifuddin Khithab dan Dr. Sayyid Muhammad Sayyid, Daarul hadits, Kairo.
  • Al Fiqhu al Islamy wa adillatuhu, karya Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaily, Daarul Fikri, Damaskus.
  • Taudhihul Ahkam min Bulughul Maram, karya Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, Maktabah Al Asady, Makkah al Mukarramah.
  • Asy Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqniq, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Daarul Ibnu Jauzy, Saudi Arabia.
  • Majmu’ fatawa wa Rasail, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Daarul Tsaraya, Saudi Arabia.
  • Taisirul ‘alam Syarhu ‘Umdatul ahkam, karya Abdullah bin Abdurrahman Ibnu Ali Basam, Nahdhah Al Hadits, Makkah Al Mukarramah.
  • Tuhfadhul Ahwadhi Syarah Jami’Iut Tirmidzi, karya Abul ‘Ala’ Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri, Daarul Hadits, Kairo.
  • ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, karya Al ‘Alamah Abu Thayyib Muhammad Syamsul Hak Al ‘Adhim Abady, Daarul Hadits, Kairo.
  • Sifat Shalat Nabi, Muhammad Nashiruddin Al Baani, Maktabah Al Ma’arif, Riyadh.
  • Fatawa Al Kubra, Syeikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, Syirkah Daarul Arqam bin Abil Arqam, Bairut.
  • Al Umm, Muhammad bin Idris Asy Syafi’I, ditahqiq dan ditakhrij oleh Dr. Rifa’at Fauzi Abdul Muthalib, Daarul Wafa’,Bairut.
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: