Beranda > Fatawa > Hukum Seorang Wanita Berkendaraan dengan Seorang Sopir yang Bukan Mahram

Hukum Seorang Wanita Berkendaraan dengan Seorang Sopir yang Bukan Mahram

Pertanyaan:

Apa hukum seorang wanita berkendaraan dengan seorang sopir yang bukan mahramnya untuk mengantarnya di dalam kota.? dan bagaimana hukumnya jika beberapa wanita dengan seorang sopir yang bukan mahramnya?

Jawaban:

Seorang wanita tidak boleh mengendarai kendaraan sendirian bersama seorang sopir yang bukan mahramnya bila tidak disertai oleh orang lain, karena ini termasuk kategori khulwah (bersepi-sepian). Telah diriwayatkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita kecuali ada mahramnya yang bersamanya.” (HR. Muslim)

Dalam sabda beliau yang lainnya disebutkan,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan menjadi yang ketiganya.” (HR. Tirmidzi)

Tapi jika ada laki-laki  atau wanita lain yang bersamanya, maka itu tidak apa-apa jika memang tidak dikhawatirkan, karena khulwah itu menjadi gugur (tidak dikategorokan khulwah) dengan adanya orang yang ketiga atau lebih. Ini hukum dasar dalam kondisi selain safar (bepergian jauh). Adapun dalam kondisi safar, seseorang wanita tidak boleh bepergian jauh (safar) kecuali bersama mahramnya, hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam,

لَا تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Tidaklah seorang wanita menempuh perjalanan jauh (safar) kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhori)

(Hadits ini telah disepakati keshahihannya). Tidak ada perbedaan antara safar melalui jalan darat, laut maupun udara. Wallahu waliyut taufiq.

Syekh Ibnu Baz, Majalah Al-Balagh, nomor 1026, hal 17. Dinukil dari Fatwa-Fatwa terkini edisi Indonesia, hal 510

  1. selvi
    Juni 1, 2010 pukul 4:42 pm

    kalau naik ojek gimana?…..misalnya untuk menuju rumahnya lumayan jauh dan fasilitas yang tersedia cuma ojek,sedangkan dia tidak punya kendaraan,itu gimana hukumnya?

    • Juni 2, 2010 pukul 1:16 am

      bagi seorang muslimah, hal ini mungkin selalu menjadi permasalahan. jika permasalahannya demikian yaitu tidak didapatkan kendaraan umum, maka diperbolehkan naik ojek dengan beberapa ketentuan, diantaranya hendaknya wanita yang membonceng tidak menyentuh si tukang ojek, dan hendaknya rute yang ia tempuh tidak melewati daerah yang terpencil atau setidaknya rute yang ia tempuh dimana mata orang bisa memandanginya. wallahu a’lam

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: