Beranda > Tazkiyah > Adab-Adab Berinteraksi dengan Kedua Orangtua

Adab-Adab Berinteraksi dengan Kedua Orangtua

Oleh: Imanudien

Sesuatu hal yang lumrah bahwa akhlak yang baik dan interaksi yang bijaksana, akan menghsilkan buah yang manis dalam kehidupan manusia. Maka manakala seorang anak bisa berperilaku dan berinteraksi baik kepada kedua orangtua, ia akan mendapatkan keridhaan keduanya yang akan menghantarkan kepada keridhaan Allah dan akhirnya akan memasukkan dirinya kedalam surga.

Maka berbahagialah wahai orang-orang yang masih mendapatkan kedua orangtuanya, jadikan keduanya wasilah (perantara) bagi kita untuk bisa masuk kedalam surga. Jangan sampai kita sia-siakan kehadirian mereka berdua, dengan mendurhakainya. Amat sangat merugi dan celakalah bagi mereka yang mendapatkan orangtuanya, akan tetapai keduanya tidak bisa memasukkan dirinya kedalam surga. Sebagimana yang disabdakan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam,

مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ

“Barangsiapa mendapati kedua orang tuanya, atau salah satunya, kemudian setelah itu ia masuk Neraka, berarti Allah telah menjauhkan dan membinasakannya.” (HR. Ahmad)

Maka disini perlu kami sebutkan adab-adab dalam bersikap dan berinteraksi kepada kedua orangtua, agar bisa menjadikan hubungan yang harmonis antara orangtua dan anaknya, yaitu sebagai berikut;

1. Mentaati Perinta Kedua Orangtua

Kita mentaati keduanya dan menghindari berbuat maksiat terhadap keduanya, kecuali jika  mereka memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Demikian pula mendahulukan ketaatan kepada keduanya terhadap siapapun dari makhluk, seperti mendahulukan keduanya atas ketaatan kepada istri. Dan, ini bukan berarti dia boleh dihina oleh si suami tetapi maksudnya adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan haknya masing-masing.

2. Menyambut Panggilan Keduanya Sesegera Mungkin, Baik Ketika Sedang Sibuk ataupun Tidak

Realita yang ada bahwa sebagian orang, bila salah seorang di antara mereka dipanggil kedua orang tuanya sementara dia sedang sibuk, dia seakan-akan tidak mendengarkan panggilan itu, tetapi bila dia lagi tidak ada kesibukan dia menjawabnya, sebagaimana bunyi sebuah bait syair:

Aku tuli terhadap urusan yang tidak aku maui

Dan aku dengar semua makhluk Allah kala aku mau.

Seharusnya, seorang anak harus menjawab panggilan keduanya begitu dia mendengar panggilan. Bahkan ketika kita dalam keadaan shalat sekalipun. Tidak kah kita teringat kisah Juraij seorang yang ahli ibadah yang dipanggil ibunya, ketika itu ia dalam keadaan mengerjakan shalat sunnah, ia lebih memilih untuk meneruskan shalat daripada memenuhi panggilan ibunya, dengan itu ibunya berdoa “Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij sebelum ia melihat wajah seorang wanita pelacur.” Kemudian Allah pun mengabulkan doanya. Dan Juraij pun mendapatkan fitnah berupa tuduhan menzianai seorang wanita pelacur. (Diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim).

Dari cerita dalam diatas para Ulama’ berpendapat bahwa hadits tersebut merupakan dalil yang membuktikan kesalahan Juraij dalam bersikap kepada ibunya, karena shalat yang dikerjakan adalah shalat sunnah dan tidak wajib, sedangkan menjawab panggilan dan berbakti kepada ibu adalah wajib dan mendurhakainya adalah haram. Sebetulnya Juraij bisa mempercepat shalatnya dan menemui ibunya, setelah selesai baru kembali meneruskan shalatnya. Mungkin ia mengira ibunya menyuruh untuk meninggalkan tempat ibadahnya dan kembali ke dunia beserta tipu dayanya yang akan melemahkan apa yang sudah menjadi janji dan tujuannya.” (Berinteraksi dengan Kedua Orangtua, Syaikh Musthafa Al-Adawi, edisi Indonesia, hal 28)

3. Tidak Meninggikan Suara Melebihi Suaranya

Dalam hal melunakkan suara, jauh hari telah Allah cantumkan dalam firman-Nya, yaitu berkenaan dengan wasiat Luqmanul Hakim kepada anaknya. Allah berfirman,

“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburu-buruk suara adalah suara keledai.” (Qs. Luqman 19)

Juga sejarah para sahabat, bagaimana mereka sangat menghormati Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dengan tidak mengeraskan suaranya melebihi suara beliau.

“Bila Beliau berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapan Beliau dan mereka tidaklah menajamkan pandangan kepada Beliau sebagai pengagungan mereka terhadap Beliau.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَهُ فِي مَسِيرَةٍ إِذْ نَادَاهُ أَعْرَابِيٌّ بِصَوْتٍ جَهْوَرِيٍّ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ فَقُلْنَا وَيْحَكَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ فَإِنَّكَ قَدْ نُهِيتَ عَنْ ذَلِكَ

“Saat kami berada dalam suatu perjalanan, tiba-tiba seorang Arab dusun memanggil beliau dengan suara yang keras. Arab dusun itu memanggil, “Wahai Muhammad!” Maka kami menyahut, “Celaka kamu ini! Pelankanlah suaramu, karena kamu dilarang berbuat seperti itu.” (HR. Ahmad)

4. Mendengar Dengan Baik, Menghadapkan Wajah Bila Keduanya berbicara serta Tidak Memplototkan Mata Ketika Memandangnya

Mendengarkan dengan baik perkataan orangtua akan menjadikan hati mereka senag dan merasa dihargai, akan tetapi sebaliknnya bila kita tidak mengdengarkan perkataan orangtua, maka akan menjadikan hati mereka tidak senang dan mengakibatkan kemarahan. Jangan sampai juga bagi kita untuk memplototkan mata. Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa para sahabat tidak pernah memplototkan pandangan mata kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. (HR. Bukhari)

5. Tidak Mendahului Pembicaraannya

Diantara akhlak mulia yang dimiliki para sahabat adalah tidak mendahului perkataan orang yang lebih tua. Hal sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Bahwasannya ia tidak mau berbicara disebabkan karena ada orang yang lebih tua darinya. Tidak diragukan lagi kedua orang tua jelas lebih besar haknya untuk dimuliakan dari semua orang yang lebih tua.

Sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ إِذَا أُتِيَ بِجُمَّارِ نَخْلَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي النَّخْلَةَ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ الْتَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ فَسَكَتُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ

Dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dihidangkanlah kurma yang sudah kering. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada satu jenis pohon yang keberkahannya seperti seorang Muslim.” Lalu aku mempunyai perkiraan bahwa pohon itu adalah pohon kurma, aku berkeinginan menjawab; ‘Wahai Rasulullah, itu adalah pohon kurma’, namun aku melihat bahwa di antara sepuluh orang yang ada aku adalah yang paling muda. Maka aku pun diam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “Yaitu pohon kurma.” (HR. Bukari dan Muslim)

6. Tidak Mendahului dalam Hal Makan atau Minum

Tentang larangan mendahulukan diri sendiri atas keduanya dalam hal makan dan minum, terdapat dalam hadits yang menceritakan salah seorang dari tiga laki-laki yang terperangkap dalam gua, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

“………Suatau hari aku kehujanan sehingga aku tidak bisa pergi hingga sore hari. Kemudian aku mendatangi keluargaku, lalu mengambil bejana (untuk perasan susu) dan memeras susu kambingku yang sedang berdiri. Setelah itu, aku pergi menemui kedua orang tuaku, namun aku mendapati keduanya telah tidur, dan aku tidak berani untuk membangunkan keduanya dan juga tidak tega meninggalkan perahan susu kambingku. Maka aku pun tetap berdiri dengan membawa bejana perahan susu hingga mereka bangun di waktu subuh. Maka aku pun memberi minum mereka berdua. Ya Allah, jika aku melakukan hal itu karena mengharap wajah-Mu.”………… (HR. Ahmad)

Dalam hadits diatas dijelaskan bagaimana ia tetap berdiri didepan pintu kamar kedua orangtuanya sampai dating fajar. Ia mendahulukan kedua orangtuanya dari anak-anaknya.

Kategori:Tazkiyah
  1. selvi
    Mei 26, 2010 pukul 3:55 pm

    berikanlah perlakuan terbaik kepada orang tua kita karena kasih sayang mereka tidak dapat digantikan dengan apapun

    • Mei 27, 2010 pukul 9:28 am

      bener sekali,, semoga kita termasuk orang yang bisa berbakti kepada kedua orangtua kita,. amiiin.

  2. Maret 14, 2011 pukul 8:54 am

    gun klo ayat dalam alquran yang memuat tentang larangan anak masuk kamar orang tua ada ga ya?

    • Maret 24, 2011 pukul 1:38 am

      barakallahu fikum,, dalam alqur’an disebutkan hendaknya seorang anak izin terlebih dahulu untuk masuk kamar orang tuanya,. silahkan buka Qs. An-Nur 58.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: