Beranda > Fikih > HILAL SERTA KAITANNYA DENGAN AMALAN IBADAH

HILAL SERTA KAITANNYA DENGAN AMALAN IBADAH

Hilal

Hilal secara bahasa adalah halla bermakna dhoharo jelas, dikatakan ahlalna an lailatil kadza, bermakna ra’aina al-hilal, kami telah melihat hilal. Dan bermakna pula raf’u shaut mengangkat suara, dikatakan a’halla shabiyu, anak kecil telah berteriak (mengangkat suara), ahalla mulabbiy bi talbiyah, orang yang bertalbiyah mengangkat suara dengan talbiyah. (Al-Mu’jam al-Wasith, Hal 992)

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan “Manusia berselisih dalam masalah hilal. Apakah ia sebuah nama

munculnya hilal di langit meskipun tidak ada yang melihat seorang pun, ataukah ia tidak dinamakan hilal sehingga jelas bagi manusia dan mereka dapat mengetahuinya”?

Beliau berpendapat bahwa al-hilal diambil dari kata ad-duhur wa raf’u as-shaut (jelas dan mengangkat suara), jika hilal telah muncul dilangit dan belum jelas di bumi, maka tidak dihukumi baginya, baik secara batin maupun dhahir. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, Juz 25, Hal 65)

Nama hilal merupakan pecahan dari perbuatan anak adam (manusia), dikatakan ah’lalna al-hilal, wastah’lalnaahu, kami telah melihat hilal, dan kami telah mengangkat suara dengannya. Maka tidak ada kejelasan kecuali yang telah disuarakan, apabila satu orang atau dua orang telah mengangkat suara dengannya dan belum dikabarkan maka yang demikian tidaklah menjadi jelas, dan tidak bisa ditetapkan hukum sehingga keduanya mengkabarkan akan hal tersebut. Maka kabar keduanya adalah al-ihlal yaitu menyuarakan dengan mengkabarkannya. (Majmu’ Fatawa, IbnunTaimiyah, Juz 25, Hal 65)

Antara Hilal Dengan Amalan Ibadah

Hilal merupakan perkara yang terkait dengan waktu sebagian dari ibadah-ibadah yang ada, seperti Ibadah puasa, berbuka (hari raya fitri), manasik, haji, iylaa’ iddah para istri, kafarah, dan lainnya. Allah Ta’ala telah berfirman.

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji. (Qs. Al-Baqarah 189)

Sahabat Qotadah Radiyallahu Anhu mengatakan “Mereka para sahabat menanyakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam berkenaan dengan hilal, untuk apa dijadikan hilal ini? Maka Allah menurunkan terhadap apa yang mereka dengar, “ia (hilal) adalah waktu-waktu bagi manusia”. Maka Allah menjadikannya untuk puasa bagi kaum muslimin, berbuka, manasik, haji, masa iddah istri-istri mereka dan tempat hutang mereka terhadap sesuatu. Allah maha tahu terhadap apa yang sesuai (baik) bagi ciptaan-Nya.” Dan dari Sa’diy mengatakan yang dimaksud adalah waktu-waktu talak, haid dan haji. ((Tafsir at-Thabari, Juz 2, Hal 956).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari ayat diatas dengan mengatakan, Allah telah mengkabarkan bahwa hilal merupakan waktu-waktu bagi manusia, Allah menyebutkan secara umum, sedangkan dikhususkan pada bulan haji sebagai pembeda baginya, dan dikarenakan haji disaksikan oleh para malaikat dan selain mereka. Beliau menambahkan bahwa Allah menjadikan hilal sebagai waktu bagi manusia dalam hukum-hukum yang ditetapkan oleh syar’I sebagai permulaan atau sebab dari suatu ibadah.

Dalil-Dalil Keterkaitan Hilal Dengan Amalan Ibadah

Masuk dalam masalah hilal beberapa ibadah diantaranya puasa, haji, hitungan ilaa’, tempo waktu dan puasa kafarat, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan kelima ibadah ini telah Allah sebutkan di dalam al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman

(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran. (Qs. Al-Baqarah 185)

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (Qs. Al-Baqarah 197)

Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya, diberi tangguh empat bulan (lamanya). (Qs. Al-Baqarah 226)

Meng-ilaa’ isteri Maksudnya: bersumpah tidak akan mencampuri isteri. dengan sumpah Ini seorang wanita menderita, Karena tidak disetubuhi dan tidak pula diceraikan. dengan Turunnya ayat ini, Maka suami setelah 4 bulan harus memilih antara kembali menyetubuhi isterinya lagi dengan membayar kafarat sumpah atau menceraikan.

Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. (Qs. Al-Mujadilah 4)

Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan. (Qs. Attaubah 2)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’alah berfirman.

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (at-Taubah 36).

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Allah telah mengkabarkan bahwa bulan-bulan yang berbilang berjumlah dua belas bulan, dan bulan-bulan yang dimaksud adalah bulan hilali (perhitungan bulan dengan hilal), maka setiap bulan dari bulan-bulan yang ada, diketahui dengan perantaraan adanya hilal. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, Juz 25, Hal 77)

Maka hendaknya bagi kaum muslimin untuk bersungguh-sunguh dalam mendapatkan hilal ini, dan lebih dikuatkan dalam pencariannya pada tiga tempat yaitu:

Pertama: Malam ketiga puluh dibulan sya’ban untuk mengetahui masuknya bulan ramadhan.

Kedua: Malam ketiga puluh di bulan ramadhan untuk mengetahui akhir bulan ramadhan dan awal dari syawal.

Ketiga: Malam ketiga puluh pada bulan Dzulqa’da untuk mengetahui dimulainya bulan Dzulhijjah.

Ketiga bulan ini sangat terkait dengan dua rukun dari rukun-rukun islam, yaitu puasa dan haji, begitu juga sebagai batasan untuk menetapkan hari raya fitri dan hari raya adha. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam telah menganjurkan untuk melihat hilal dalam beberapa hadits beliau, diantaranya adalah:

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dari Abu Hurairah.

عَنْ مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ))

Dari Muhammad bin Ziyad ia berkata aku mendengar Abu Hurairah berkata “Bersabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, atau ia berkata bersabda Abu al-Qosim Shallallahu Alaihi Wasallam “Berpuasalah kalian karena meliahatnya (hilal) dan berbukalah kalian semua karena melihanya (hilal). Jika hilal tidak terlihat oleh kalian maka sempurnakanlah bulan sya’ban menjadi tiga puluh.” (Shahih Bukhori, Kitab Shaum, Bab Idza ra’aitumu al-hilal fa shumu, wa idza ra’aitumuhu fa afthiru.” No 1909, Hal 392)

Dalam hadits lain dari Abdullah bin Umar Radiyallahu Anhuma

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (( الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ ))

Dari Abdullah bin Umar Radiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Bulan adalah dua puluh sembilan malam, maka janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya, jika hila tertutupi oleh kalian maka sempurnakanlah menjadi tiga puluh.” (Bukhori dan Muslim)

Hadits pertama mewajibkan ibadah puasa ramadhan dengan melihat hilal dibulan ramadhan, atau dengan menyempurnakan bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari. Dan dalam hadits ini juga diperintahkan untuk berbuka dengan melihat hilal bulan syawal, atau dengan menyempurnakan bulan ramadhan menjadi tiga puluh hari.

Sedang hadits kedua melarang kaum muslimin untuk melaksanakan puasa ramadhan sebelum melihat hilal ramadhan atau sebelum menyempurnakan bulan sya’ban diwaktu keadaan langit cerah.

 

Wallahu A’lam

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: